Mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Melalui Pendekatan Bentang Alam

Source : Forest News

Savids – September 2015, PBB menyepakati Tujuan Pembangunan Berkelanjutan sebagai seperangkat tujuan, target, dan indikator universal bagi semua negara-negara anggota PBB. Hal ini kemudian akan digunakan untuk kerangka kerja kebijakan selama 15 tahun ke depan (terhitung dari tahun 2015). Tujuan Pembangunan Berkelanjutan merupakan inti dari upaya internasional dalam memetakan arah pembangunan yang lebih bertanggung jawab, termasuk membuat peta jalan yang adil bagi manusia dan bumi.

Terdapat 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang akan mengidentifikasi setiap subjek penting dan setiap indikator melekat pada tiap-tiap subjek, sehingga setiap kemajuan–dan kemunduran — dapat diukur.

CIFOR percaya bahwa dengan penyelarasan kehutanan dengan 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan akan membantu meningkatkan kontribusi kehutanan terhadap agenda pembangunan. Selain itu, hal tersebut juga akan mampu menciptakan cara mengkomunikasikan urgensi kehutanan pada audiens lebih luas, dan menjamin bahwa kehutanan serta seluruh elemen terkait dapat menyerap kepentingan publik dan politik.

Dengan kata lain, CIFOR ingin menekankan arti “kehutanan” hingga bermakna “segala bentuk kontribusi untuk pembangunan berkelanjutan.

Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah melalui pendekatan bentang.

Konsep “bentang alam” sendiri telah terkait dengan upaya mencapai pemanfaatan lahan lebih secara berkelanjutan, serta pemanfaatan keamanan pangan, perubahan iklim, konservasi keragaman hayato, pengurangan kemiskinan, dan sejenisnya hingga mendorong percepatan agenda pembangunan global.

Paula Caballero, Direktur Senior Praktik Global Lingkungan dan Sumber Daya Bank Dunia, menyatakan Tujuan Pembangungan Berkelanjutan PBB yang dalam proses pembangunan seharusnya dilihat melalui prisma bentang alam.

“Itu berarti bahwa kita tidak hanya melihat fokus target nyata di ekosistem terestrial, atau hutan, atau air, atau lautan, tetapi kita menempatkan target untuk sesuatu yang bisa saja belum terlihat perannya — misalnya partisipasi perempuan — dan menempatkan lensa bentang alam pada mereka,” pendapatnya di sela-sela Forum Bentang Alam Global di Lima, Peru.

“Terdapat seluruh rentang masalah di luas target ‘tersangka biasa’ yang menyediakan titik kritis awal untuk memiliki bentang alam yang saya sebut semacam prinsip mengorganisasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.”

Walaupun gagasan mengintegrasikan pendekatan bentang alam secara masif dalam literatur telah ada beberapa dekade lalu, kajian terbaru menemukan bahwa bukti efekfivitas, seperti dilaporkan dalam literatur ilmiah, hasil mengejutkannya masih terbatas.

Kondisi ini tentu saja menjadi masalah bagi mitra implementasi, proses kebijakan dan komunitas penelitian.

Sejalan dengan arah penelitian, CIFOR telah mengidentifikasi area utama pendukung implementasi–tiga area ini seluruhnya menghadirkan tantangan, yang jika kita atasi, kita berada pada jalan menemukan solusi dan mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Langkah 1: Merengkuh Integrasi

Integrasi menjadi fondasi keberhasilan semua upaya operasionalisasi pendekatan bentang alam. Laporan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB juga menyeru pendekatan holistik. Hal ini mencakup integrasi di dalam dan di seluruh spektrum sektor yang beroperasi dalam bentang alam.

Sebagai contoh, para peneliti harus berkomitmen bekerja lintas disiplin, menjembatani beda antara ilmu sosial dan biofisik. Para pengambil kebijakan perlu meningkatan pelibatan seluruh kementerian untuk menstimulasi pembuatan kebijakan yang menghitung tujuan-tujuan yang berkonflik dan bersaing di semua bentang alam. Dan para praktisi harus merundingkan perbedaan hasil yang diinginkan, meningkatkan sinergi dan memitigasi potensi pertukaran.

Langkah 2: Bekerja Lintas Waktu dan Ruang

Untuk meningkatkan peluang implementasi optimal, pendekatan bentang alam perlu mempertimbangkan skala spasial dan temporal. Kerangka implementasi dikembangkan pada skala nasional, dirancang untuk memenuhi komitmen global, akan tidak efektif jika tidak diselaraskan dengan realitas lokal. Lebih jauh, semua yang bekerja pada bentang alam tertentu atau dengan pertaruhan dalam bentang alam perlu jelas mengenai bagaimana mencapai perubahan terencana, dalam kondisi dengan tantangan unik.

Kebutuhan konteks tidak cukup dinyatakan: tiap bentang alam berbeda dan begitu pula bekerja di satu bentang alam bisa sesuai atau bisa tidak sesuai dengan tempat lain. Teori baku perubahan positif akan memfasilitasi implementasi jika bersifat inklusif, memfasilitasi dan menegosiasi proses yang mempertimbangkan bagaimana cara terbaik membangun jejaring, mengembangkan kapasitas institusi, dan menjamin mekanisme finansial yang mengakui pendekatan ini sebagai proses jangka panjang.

Langkah 3: Mengukur, Mengukur, Mengukur

Mengembangkan ukuran yang sesuai menjadi penting dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan – dan ini sulit, fakta membuktikan bahwa indikator target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan saja masih terus dikembangkan.

Bagaimanapun, sejumlah bukti pemantauan dan penilaian bentang alam berkembang.

Pengambil kebijakan peneliti, dan praktisi harus memanfaatkan bukti tersedia dan berjuang melakukan upaya terkoordinasi untuk mengembangkan kelengkapan alat ukur bagi pendekatan bentang alam dan kemajuan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

News Reporter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IBX5A4A16A0735FE